Di antara perbukitan yang hijau dan udara sejuk khas pegunungan, terdapat sebuah desa yang menyimpan pesona alam dan budaya begitu kaya. Desa itu bernama Curugsewu, terletak di Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Desa ini terkenal dengan potensi wisata alamnya, yaitu Air Terjun Curugsewu. Air terjun yang menjadi ikon desa ini memiliki panorama yang menakjubkan, aliran air yang deras, serta udara segar yang membuat pengunjung betah berlama-lama. Keindahan alam Curugsewu bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat setempat, tetapi juga menjadi daya tarik utama bagi wisatawan dari berbagai daerah. Selain potensi alam, Desa Curugsewu juga kaya akan warisan budaya dan kesenian tradisional. Kesenian warok dan kuda lumping masih kerap dipentaskan pada acara tertentu sebagai bentuk pelestarian budaya Jawa. Pertunjukan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarat makna spiritual dan simbol kekuatan. Di sisi lain, berbagai macam UMKM turut berkembang di desa ini, seperti olahan makanan tradisional likuk yang khas, serta wingko yang manis dan gurih. Produk- produk tersebut tidak hanya menghidupkan ekonomi masyarakat, tetapi juga memperkuat identitas desa sebagai daerah yang kaya akan hasil karya warganya. Kehidupan masyarakat Curugsewu juga tidak bisa dilepaskan dari kesenian yang sarat makna. Salah satu yang paling menonjol adalah kesenian warok dan kuda lumping, yang hingga kini masih dijaga dan dilestarikan oleh generasi muda maupun tua di desa ini. Hal ini terbukti dari adanya paguyuban yang bernama Rukun Santoso yang sudah terbentuk bahkan sebelum tahun 2010, hal tersebut berdasarkan informasi dari narasumber yaitu, Bapak Slamet Haryanto. Dengan pemangku adat terdahulu Alm. Pak Senijo kemudian digantikan oleh Bapak Sunarto Giman dan Bapak Saryam hingga saat ini. Diketuai oleh Pak Subud Menurut Bapak Slamet Haryanto, nama lengkap paguyuban ini adalah Rukun Santoso Panggah Ngesti Tunggal. Filosofinya yaitu:
- Rukun (agawe) Santoso : rukun membuat sentosa
- Panggah : tetap,

- Ngesti : jadi
- Tunggal berasal dari kata setunggal : satu.
Dengan demikian, makna Rukun Santoso Panggah Ngesti Tunggal adalah Rukun menciptakan ketentraman dan menjadikan kita tetap satu. Alat musik gamelan dan busana yang dimiliki oleh paguyuban seni Rukun Santoso, didapatkan dari swadaya, hibah dan dibelikan setelah pengusulan dana pada tahun 2013 dan terealisasikan pada tahun 2015 diangka 40 juta dengan anggaran desa pada tahun itu. Keanggotan dari paguyuban seni Rukun Santoso terdapat sekitar 80 anggota aktif dengan 14 perempuan khusus penari, pengrawit perempuan ada dua, 2 wiro suoro 1 laki - laki dan 1 perempuan, dan sisanya laki - laki dari berbagai jenis usia sebagai penari atau anak wayang dalam istilahnya dan pengrawit. Anggota Rukun Santoso tidak hanya fokus dari masyarakat Curugsewu, tetapi bagi siapapun yang memiliki keinginan, niat dan hati yang tulus untuk melestarikan kebudayaan akan diterima dengan baik. Anggota terbagi menjadi dua kriteria, junior dan senior. Untuk tim junior diadakan latihan rutin pada tiap hari selasa, untuk lebih memperdalam keterampilan menarinya. Rukun santoso memiliki 12 tarian yang dipelajari, tetapi dalam sekali pementasan hanya membutuhkan sekitar 4 sampai 8 tarian sesuai permintaan dari tuan rumah yang mengundang. Berikut adalah jenis - jenis tarian yang terdapat pada paguyuban Rukun Santoso :
1. Banyumasan
2. Temanggungan
3. Warok ponorogo
4. Kiprahan
5. Janturan
6. Barongan
7. Manuk beri
8. Dawangan
9. Wiroto Tamtomo

10. Babat alas wonomarto
11. Ijo ijo
12. Sendra tari anoman obong
Sebelum pementasan, para pemain melakukan ritual spiritual untuk
membuka aura. Ritual tersebut antara lain:
- Puasa 3 hari berturut-turut (seperti puasa Ramadan: sahur sebelum subuh dan
berbuka saat matahari terbenam).
- Mandi di 3 atau 7 sumber mata air pada hari Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon.
- Puasa 7 hari berturut-turut.
- Pati geni (tidak tidur dan tidak makan dalam satu hari, hanya berbuka dengan
segelas air putih saat matahari terbenam).

     Selain berkesenian, masyarakat Curugsewu juga memiliki tradisi tahunan Merti Desa sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur atas keberkahan hidup yang diberikan. Rangkaian kegiatan merti desa dimulai dengan :
1. Pengajian,
Doa bersama dilakukan di malam hari. Doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Acara ini dihadiri oleh tokoh - tokoh penting di desa, seperti ketua RT, ketua RW, kepala dusun, camat dan lain sebagainya, dilanjut dengan makan bersama sebagai bentuk rasa syukur kepada sang pencipta. Acara ini
dihadiri oleh tokoh - tokoh penting di desa, seperti ketua RT, ketua RW, kepala dusun, camat dan lain sebagainya
2. Susuk Wangan (bersih sungai)
Sebagai wujud kepedulian lingkungan, acara yang kedua ini dilakukan dipagi hari setelah pengajian pada malam harinya. Tidak hanya membersihkan sungai tetapi, juga melakukan pembersihan pada terowongan tembusan sungai agar aliran air tetap lancar.
3. Ruwat Tambak

Ritual simbolis untuk pembersihan desa atau kerap disebut dengan ruwatan dalam bahasa jawa, untuk membuang hal- hal buruk dan memohon keselamatan bagi seluruh masyarakat Curugsewu yang dilakukan oleh bapak kepala desa dan para perangkat desa. Ritual simbolis yang dilakukan seperti, membakar dupa dan kemenyan serta, melakukan doa dipinggir sungai dan meninggalkan sesajen dipinggir sungai.

4. Selametan Tumpengan
Acara ini dilakukan setelah ruwatan tambak selesai dan dilanjutkan dengan
selametan (syukuran) yang dihadiri oleh warga terkhususnya dari kelompok
petani.

5. Ngidung atau tembang tradisional
Bagian dari seni tutur Jawa yang masih dilestarikan.
6. Pertunjukan wayang kulit
Pementasan di malam hari yang sarat akan nilai-nilai filosofi Jawa.


     Tradisi ini menunjukkan bagaimana seni, budaya, dan spiritualitas berpadu dalam kehidupan masyarakat Desa Curugsewu, serta bagaimana Komunitas Rukun Santoso berperan penting menjaga agar nilai-nilai tersebut tetap lestari dan diwariskan Kepada generasi berikutnya.

 

Youtube

Video Dokumentasi Kebudayaan Curugsewu 2025 By UNNES GIAT 12 Curugsewu

Cuaca